Rabu, 27 April 2011

DAULAH UMAYYAH

BAB I

PENDAHULUAN


A. LATAR BELAKANG
Sepeninggalnya Khalifah Ali bin Abi Thalib, kekhalifahan islam dipegang oleh Muawiyah bin Abu Sufyan. Seorang tokoh yang kecewa atas kebijaksanaan yang diambil oleh Ali bin Abi Thalib dalam mengambil keputusan terhadap kasus pembunuhan Khalifah Ustman bin Affan. Beliau juga merupakan pendiri Daulah Umayyah.
Dalam makalah ini akan dibahas tentang Islam pada masa Daulah Umayyah I atau tepatnya di daerah Damaskus, Suriah. dan untuk lebih detailnya, perkembangan islam di Damaskus ini akan diuraikan pada bab pembahasan.
B. RUMUSAN MASALAH
Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam makalah ini adalah:
1)      Bagaimana latar belakang berdirinya Daulah Umayyah I di Damaskus
2)      Siapa saja khalifah yang terkenal
3)      Apa saja kebijakan dan karakteristik Daulah
4)      Apa saja penyebab kemajuan, kemunduran dan kehancuran Daulah Umayyah I di Damaskus.
Demikianlah mengenai sedikit isi makalah ini yang dapat tim penulis selesaikan









BAB II

PEMBAHASAN

DAULAH UMAYYAH

Bani Umayyah merupakan masa kekhalifahan atau pemerintahan islam yang pertama setelah berakhirnya masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin.
A. Latar Belakang Berdirinya Daulah Umayyah
Setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Kekhalifahan islam dipegang oleh Abu Bakar as-Sidiq dan Bani Umayyah merasa bahwa kelas mereka di bawah kelas kaum Anshar dan Muhajirin. Mereka harus menunjukkan perjuangan mereka dalam membela islam ,untuk memiliki kelas yang setingkat. Ketika Umar bin Khattab menjadi khalifah,mereka dikirim ke Suriah untuk berperang melawan Bizantium. Atas jasanya,Yazid bin Abu Sufyan diangkat menjadi gubernur disana.
Pada masa pemerintahan Usamn bin Affan,Muawiyah bin Abu Sufyan diangkat menjadi gubernur di Suriah menggantikan saudaranya. Selain itu,Bani Umayyah menjadi penguasa disana.
Pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib merupakan awal dari kehancuran umat islam. Hal ini dikarenakan Muawiyah bin Abu Sufyan merasa tidak puas dengan kebijaksanaan Khalifah Ali bin Abi Thalib ketika menangani kasus pembunuhan Usman bin Affan. Golongan ini merasa sangat kecewa dengan pengangkatan Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah.Akhirnya perselisihan ini memuncak menjadi Perang Jamal. Pereselisihan antara pihak Ali bin Abi Thalib dengan pihak Muawiyah tidak berakhir sampai disitu,akan tetapi perselisihan ini memuncak menjadi Perang Shiffin. Dalam perang itu terjadi peristiwa Tahkim atau Arbitrase.akan tetapi peristiwa ini memunculkan satu golongan yang disebut dengan golongan Khawarij. Golongan ini adalah orang-orang yang kecewa dengan peristiwa Tahkim tersebut dari pihak Ali bin Abi Thalib.
Ali bin Abi Thalib pun dibunuh oleh salah seorang dari kelompok Khawarij tersebut pada tahun 661 M. Meninggalnya Ali bin Abi Thalib membuat Muawiyah mengumumkan dirinya sebagai khalifah yang baru dengan berpusat di Damaskus,Suriah. Akan tetapi,Hasan bin Ali,putra Ali bin Abin Abi Thalib,tidak mau mengakuinya. Hal ini mulai menyulut pertentangan dikalangan umat islam. Akhirnya Hasan bin Ali membuat perjanjian damai dengan Muawiyah bin Abu Sufyan. Peristiwa ini dikenal dengan Aumul Jama'ah dan terjadi pada tahun 41 atau 661 M.
Perjanjian itu dapat mempersatukan kembali umat Islam dalam suatu kepemimpinan politik,dibawah Muawiyah bin Abu Sufyan. Di sisi lain perjanjian itu menyebabkan Muawiyah menjadi penguasa absolute dalam islam. Dinasti Umayyah berkuasa hampir satu abad,teoatnya selama 90 tahun,dengan empat belas khalifah.
B. I. Khalifah-khalifah Daulah Umayyah
1.Muawiyah ibn Abi Sufyan {661-681 M}
Muawiyah ibn Abi Sufyan adalah pendiri Daulah Bani Umayyah dan menjabat sebagai Khalifah pertama. Ia memindahkan ibu kota dari Madinah al Munawarah kekota Damaskus dalam wilayah Suriah.
2.Yazid ibn Muawiyah {681-683 M}
Lahir pada tahun 22 H/643 M. Pada tahun 679 M,Muawiyah mencalonkan anaknya, Yazid, untuk menggantikannya. Yazid menjabat sebagai khalifah dalam usia 34 tahun pada tahun 681 M. Ketika Yazid naik tahta, sejumlah tokoh di Madinah tidak mau menyatakan setia kepadanya. Pada tahun 680 M, ia pindah ke Kufah atas permintaan golongan Syi'ah yang ada di Irak.


3.Muawiyah ibn Yazid {683-684 M}
Muawiyah ibn Yazid menjabat sebagai khalifah pada tahun 683-684 M dalam usia 23 tahun.
4. Marwan ibn Al-Hakam {684-685 M}
Ia pernah menjabat sebagai penasihat Khalifah Ustman bin Affan. Untuk mengukuhkan jabatannya,maka ia sengaja mengawini janda Khalifah Yazid, Ummu Khalid.
5. Abdul Malik ibn Marwan {685-705 M}
Abdul Malik ibn Marwan dilantik sebagai khalifah setelah kematian ayahnya,pada tahun 685 M.
6.Al-Walid ibn Abdul Malik {705-715 M}
Masa pemerintahan Walid ibn Malik adalah masa ketentraman,kemakmuran dan ketetertiban.
7. Sulaiman ibn Abdul Malik (715-717 M)
Menjadi khalifah pada usia 42 tahun. Masa pemerintahannya berlangsung selama 2 tahun, 8 bulan. Ia tidak memiliki kepribadian yang kuat, sehingga mudah dipengaruhi penasihat-penasihat di sekitar dirinya.
8. Umar ibn Abdul Aziz (717-720 M)
Menjabat sebagai khalifah pada usia 37 tahun. Ia terkenal adil dan sederhana.


9. Yazid ibn Abdul Malik (720-724 M)
Masa pemerintahannya berlangsung selama 4 tahun, 1 bulan. Ia adalah seorang penguasa yang sangat gandrung terhadap kekuasaan.
10. Hasyim ibn Abdul Malik (724-743 M)
Menjabat sebagai khalifah pada usia yang ke 35 tahun. Ia terkenal sebagai seorang nearawan yangcakap dan ahli militer.
11. Walid ibn Yazid (743-744 M)
Masa pemerintahannya selama 1 tahun, 2 bulan. Ia adalah salah seorang khalifah yang berkelakuan buruk.
12. Yazid ibn Walid (Yazid II) (744 M)
Masa pemerintahannya berlangsung selama 16 bulan dan dia wafat pada usia 46 tahun. Selain itu, masa pemerintahannya penuh kemelut dan kekacauan.
13. Ibrahim ibn Malik (744 M)
Pada masa pemerintahannya keadaan negara semkin kacau dan dia memerintah selama 3 bulan dan wafat pada tahun 132 H.
14. Marwan ibn Muhammad (745-750M)
Beliau seorang ahli negar yang bijaksana dan seorang pahlawan. Beberapa pemberontak berhasil ditumpasnya , tetapi dia tidak mampu menghadapi gerakan Bani Abbasiyah yang telah kuat pendukungnya.
B. II. Kalifah Yang Terkenal
Khalifah-khalifah yang terkenal diantara ke 14 khalifah tersebut adalah:
1. Muawiyah bin Abu Sufyan
Muawiyah bin Abu Sufyan adalah pendiri Kekhalifahan Bani Umayyah. Ia memerintah selama sembilan belas tahun. Pada masa pemerintahannya islam menyebar kearah barat dan timur.
2. Abdul Malik bin Marwan
Pada masa pemerintaha Abdul Malik bin Marwan,pemberontakan-pemberontakan kaum Syi'ah masih berlanjut. Yang termasyhur di antaranya adalah pemberontakan Mukhtar di Kufah pada tahun 685 - 687 M. Mukhtar mendapat banyak pengikut dari kalangan kaum Mawali, yaitu umat Islam bukan Arab, berasal dari Persia, Armenia dan lain-lain yang pada masa Bani Umayyah dianggap sebagai warga negara kelas dua. Ekspansi ke timur yang dilakukan Muawiyah kemudian dilanjutkan oleh khalifah Abd al-Malik.
3. Al-Walid bin Abdul Malik
Masa pemerintahan Walid adalah masa ketenteraman, kemakmuran, dan ketertiban. Umat Islam merasa hidup bahagia. Pada masa pemerintahannyayang berjalan kurang lebih sepuluh tahun itu tercatat suatu ekspedisi militer dari Afrika utara menuju wilayah barat daya, benua Eropa, yaitu pada tahun 711 M. Meskipun masa pemerintahannya sangat singkat, dia berhasil menjalin hubungan baik dengan golongan Syi'ah. Dia juga memberi kebebasan kepada penganut agama lain untuk beribadah sesuai dengan keyakinan dan kepercayaannya.
4. Umar bin Abdul Aziz
Umar bin Abdul Aziz memerintah dalam waktu tidak lama,hanya sampai tahun 720 M atau hanya selama tiga tahun. Walaupun sebentar, ia berhasil mencapai banyak kemajuan.

5. Hasyim bin Abdul Malik
Kerusuhan terus berlanjut hingga masa pemerintahan Khalifah berikutnya, Hisyam ibn Abd al-Malik (724-743 M). Bahkan di zaman Hisyam ini muncul satu kekuatan baru yang menjadi tantangan berat bagi pemerintahan Bani Umayyah. Kekuatan itu berasal dari kalangan Bani Hasyim yang didukung oleh golongan mawali dan merupakan ancaman yang sangat serius. Dalam perkembangan berikutnya kekuatan baru ini, mampu menggulingkan dinasti Umawiyah dan menggantikannya dengan dinasti baru, Bani Abbas. Sebenarnya Hisyam ibn Abd al-Malik adalah seorang khalifah yang kuat dan terampil. Akan tetapi, karena gerakan oposisi terlalu kuat, khalifah tidak berdaya mematahkannya. Sepeninggal Hisyam ibn Abd al-Malik, khalifah-khalifah Bani Umayyah yang tampil bukan hanya lemah tetapi juga bermoral buruk. Hal ini makin memperkuat golongan oposisi.
C. Kebijakan dan Karakteristik Daulah Umayyah
Adapun kebijakan para khalifah Daulah Umayyah yang menjadikan Daulah Umayyah maju sekaligus sebagai penciri atau karakter daulah tersebut adalah:
v     Pada masa Mu'awiyyah tergolong cemerlang. Ia berhasil menciptakan keamanan dalam negeri dan mengatarkan negara dan rakyatnya kepada kemakmuran serta kekayaan meliputi perluasan wilayah hingga Afrika Utara, wilayah Khurasan dan Bukhara (Turkistan) setelah menyeberangi sungai Oxus .
v     Ekspansi ke timur yang dilakukan Muawiyah kemudian dilanjutkan oleh khalifah Abd al-Malik. Dia mengirim tentara menyeberangi sungai Oxus dan dapat berhasil menundukkan Balkh, Bukhara, Khawarizm, Ferghana dan Samarkand.Tentaranya bahkan sampai ke India dan dapat me¬nguasai Balukhistan, Sind dan daerah Punjab sampai ke Maltan. . Selain itu, Khalifah Abd al-Malik juga berhasil melakukan pembenahan-pembenahan administrasi pemerintahan dan memberlakukan bahasa Arab sebagai bahasa resmi administrasi pemerintahan Islam.
v     Selain melakukan pembenahan administrasi pemerintahan, Khalifah Abdul Malik bin Marwan juga berhasil mengubah mata uang Bizantium dan Persia yang dipakai di daerah-daerah yang dikuasai Islam. Untuk itu, dia mencetak uang tersendiri dengan memakai kata-kata dan tulisan Arab.
v     Pada masa pemerintahan Walid menampakkan kejayaan Dinasti Umayyah. Wilayah kekuasaannya pun bertambah luas sampai ke Spanyol di Barat dan Sina ( India ) di Timur.. Dia membangun panti untuk orang cacat, juga membangun jalan-jalan raya, pabrik-pabrik, gedung-gedung pemerintahan yang megah dan masjid-masjid.
v     Pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, dia melakukan berbagai perbaikan dan pembangunan sarana pelayanan umum, speerti perbaikan lahan pertanian, penggalian sumur baru, penginapan bagi musafir dan lain-lain..
D. Kemajuan, Kemunduran dan Kehancuran Daulah Umayyah
D. I. Kemajuan-kemajuan Daulah Umayyah
Selain melakukan ekspansi ke berbagai wilayah, ada beberapa hal penting yang di capai Daulah Umayyah, yaitu:
1)      Menetapkan Bahasa Arab sebagai Bahasa resmi
2)      Mendirikan masjid Agung di Damaskus
3)      Membuat mata uang bertuliskan kalimat syahadat
4)      Mendirikan rumah sakit di berbagai wilayah;
5)      Menyempurnakan peraturan pemerintah;
6)      Melakukan pembukuan Hadits Nabi.
Selain itu, Pada masa Daulah Bani Umayyah perkembangan kebudayaan mengalami kemajuan dan juga bidang seni, terutama seni bahasa, seni suara, seni rupa, dan seni bangunan (Arsitektur).
D. II. Kemunduran dan Kehancuran Daulah Umayyah

Ada beberapa faktor yang menyebabkan dinasti Bani Umayyah lemah dan membawanya kepada kehancuran. Faktor-faktor itu antara lain adalah:

Ø      Sistem pergantian khalifah melalui garis keturunan adalah sesuatu yang baru (bid'ah) bagi tradisi Islam yang lebih menekankan aspek senioritas. Pengaturannya tidak jelas. Ketidak jelasan sistem pergantian khalifah ini menyebabkan terjadinya persaingan yang tidak sehat di kalangan anggota keluarga istana.
Ø      Latar belakang terbentuknya dinasti Bani Umayyah tidak bisa dipisahkan dari konflik-konflik politik yang terjadi di masa Ali. Sisa-sisa Syi'ah (para pengikut Abdullah bin Saba' al-Yahudi ) dan Khawarij terus menjadi gerakan oposisi, baik secara terbuka seperti di masa awal dan akhir maupun secara tersembunyi seperti di masa pertengahan kekuasaan Bani Umayyah. Penumpasan terhadap gerakan-gerakan ini banyak menyedot kekuatan pemerintah.
Ø      Pada masa kekuasaan Bani Umayyah, pertentangan etnis antara suku Arabia Utara ( Bani Qays ) dan Arabia Selatan ( Bani Kalb ) yang sudah ada sejak zaman sebelum Islam , makin meruncing. Perselisihan ini mengakibatkan para penguasa Bani Umayyah mendapat kesulitan untuk menggalang persatuan dan kesatuan. Disamping itu, sebagian besar golongan mawali (non Arab), terutama di Irak dan wilayah bagian timur lainnya, merasa tidak puas karena status mawali itu menggambarkan suatu inferioritas, ditambah dengan keangkuhan bangsa Arab yang diperlihatkan pada masa Bani Umayyah.
Ø      Lemahnya pemerintahan daulat Bani Umayyah juga disebabkan oleh sikap hidup mewah di lingkungan istana sehingga anak-anak khalifah tidak sanggup memikul beban berat kenegaraan tatkala mereka mewarisi kekuasaan. Disamping itu, para Ulama banyak yang kecewa karena perhatian penguasa terhadap perkembangan agama sangat kurang.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Daulah bani Umayyah I didirikan oleh Muawiyah bin Abu Sufyan. Khalifah yang memimpin Daulah ini ada 14 orang. Selain itu, masing-masing khalifah ada yang membuat kemajuan dan ada juga yang menyebabkan kemunduran Daulah Umayyah. Salah satu kemajuan yang di capai oleh daulah ini adalah berhasilnya menetaokan bahasa Aarb sebagai bahasa resmi dan mendirikan mesjid agung di Damaskus.
Salah satu penyebab kehancuran dan runtuhnya daulah ini adalah . Lemahnya pemerintahan daulat Bani Umayyah juga disebabkan oleh sikap hidup mewah di lingkungan istana sehingga anak-anak khalifah tidak sanggup memikul beban berat kenegaraan tatkala mereka mewarisi kekuasaan.























DAFTAR PUSTAKA


·        Yatim, Badri. 2004. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta .
·        Islam Konsepsi dan Sejarahnya, Syeh Mahmudunnasir
  • Sejarah Perdaban Islam, Prof. DR. Musyrifah Sunanto
·        Internet . id.wikipedia.org.

Selasa, 19 April 2011

LESSON STUDY

SEKILAS TENTANG LESSON STUDY

Dalam inovasi pendidikan, secara umum dapat dibedakan dua model inovasi yaitu: top down model yaitu inovasi pendidikan yang diciptakan oleh pihak tertentu sebagai pimpinan/atasan yang diterapkan kepada bawahan. Seperti, halnya inovasi pendidikan yang dilakukan oleh Depdiknas selama ini. Dan bottom up model, yaitu inovasi yang bersumber dan hasil ciptaan dari bawah dan dilaksanakan sebagai upaya untuk meningkatkan penyelenggaraan dan mutu pendidikan.
Pemerintah selalu melakukan usaha peningkatan mutu guru melalui pelatihan. Namun, kurang memberikan dampak yang signifikan terhadap peningkatan mutu guru. Karena ada dua hal yang selama ini disinyalirkan mentyebabkan pelatihan-pelatihan guru/dosen belum berdampak pada peningkatan mutu pendidikan. Pertama, pelatihan tidak berbasis pada permaslahan nyata di dalam kelas. Kedua, hasil pelatihan hanya menjadi pengetahuan saja, tidak diterapkan pada pembelajaran dikelas ataupun diterapkan hanya sementara dan selanjutnya kembali ke semula.
Untuk mengatasi kelemahan pelatihan-pelatihan konvensional yang kurang bernilai guna dan kurang menekankan pada pasca pelatihan, maka Lesson Study menawarkan model in-service trining yang lebih memfokuskan pada upaya pembrdayaan guru sesuai kapasitas serta permasalahan yang dihadapi masing-masing.
Lesson Study yaitu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning (saling belajar) untuk membangun komunitas belajar. Lesson study merupakan metode atau strategi pembelajaran tetapi serangkaian kegiatan pembelajaran yang dapat diterapkan di dalamnya berbagai metode atau strategi pembelajaran yang dianggap efekytip dan sesuai dengan situasi, kondisi, dan permasalahan faktual yang dihadapi guru di kelas nyata.


PENTINGNYA LESSON STUDY BAGI PEMBELAJARAN PAI

Pada umumnya, pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di Indonesia cenderung dilakukan secara konvensional dengan di dominasi metode ceramah. Praktik pembelajaran konvesional semacam ini, lebih cenderung menekankan pada bagaimana guru mengajar (teacher-centered) dan pada bagaimana siswa belajar (student-centered) dan secara keseluruhan hasilnya dapat kita maklumi yang ternyata tidak banyak memberikan kontribusi signifikan bagi peningkatan mutu proses dan hasil pembelajaran siswa.  Untuk merubah kebiasaan praktik pembelajaran dari pembelajan konvensional ke pembelajaran yang berpusat kepada siswa memang tidak mudah, terutama di kalangan guru yang tergolong pada kelompok laggard (penolak perubahan/inovasi).
Tahapan dalam penyelenggaraan lesson study dalam pembelajaraan PAI. Yaitu:
1.      Tahapan Perencanaan (plan)
Dalam tahapan perencanaan, para guru PAI yang tergabung dalam lesson study berkolaborasi untuk menyusun RPP yang mencerminkan pembelajaran PAI yang berpusat pada siswa. Perencanaan diawali dengan kegiatan menganalisis kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran, seperti: kompetemsi dasar, cara membelajarkan siswa, dan mensiasti kekurangan fasilitas dan sarana belajar.
2.      Tahapan Pelaksanaan (Do)
Pada tahapan yang kedua, terdapat dua kegiatan utama yaitu:
·        Kegiatan pelaksanaan pemmbelajaran PAI yang dilakukan oleh salah seorang guru PAIyang di sepakati atau atas permintaan sendiri untuk mempraktekan RPP PAI yang telah disusun bersama.
·        Kegiatan pengamatan atau observasi yang dilakukan oleh anggota atau komunitas lesson study yang lainnya.


3.      Tahapan Refleksi (see)
Kegiatan refleksi dilakukan dalam bentuk diskusi yang diikutu seluruh peserta lesson study yang dipandu oleh kepala sekolah atau peserta lainnya yang ditunjuk. Diskusi dimulai dari penyanpaian kesan-kesan guru yang telah mempraktikan pembelajaran, dengan menyampaikan komentar atau kesan umum maupun kesan khusus atas proses pembelajaran PAI yang dilakukan.
4.      Tahapan Tindak Lanjut (Act)
Dari hasil refleksi dapat diperoleh sejumlah pengetahuan baru, rekomendasi maupun keputusan-keputusan penting guna perbaiki dan peningkatan proses pembelajaran PAI, baik pada tataran individual maupun manajerial.

IMPLEMENTASI LESSON STUDY DALAM PEMBELAJARAN PAI
Untuk dapat memulai kegitan lesson study dalam pembelajaran PAI maka diperlukan perubahan dalam diri guru PAI itu sendiri sehingga paling tidak memiliki sikap sebagai berikut:
a)      Semangat introfeksi terhadap apa yang sudah dilakukan selama ini terhadap proses pembelajaran. Misalnya dengan mengajukan pertanyaan terhadap diri sendiri dengan pertanyaan seperti:
1)      Apakah saya sudah melakukan tugas sebagai guru PAI dengan baik?
2)      Apakah pembelajaran PAI yang saya lakukan telah sesuai dengan kompetensi yang dihararkan akan dicapai siswa?
3)      Apakah saya telah membuat siswa merasa jenuh dengan pembelajaran PAI saya?
b)      Serangkaian petanyaan tersebut harus dijawab dengan jujur oleh setiap guru PAI yang ingin terlibat/dilibatkan dalam kegiatan lesson study.
c)      Keberanian membuka diri, untuk dapat menerima saran dari orang lain untuk peningkatan kualitas diri.
d)      Keberanian untuk mengakui kesalahan diri sendiri.
e)      Keberanian untuk mau mengakui dan memakai ide orang lain yang baik.
f)        Keberanian memberikan masukan yang jujur dan penuh penghormatan.
Menurut Catherine Lewis, berdasrkan hasil observasinya terhadap berbagai implementasi Lesson Study mengemukakan nilai positif implementasi Lesson Study antar lain:
1)      Tujuan bersama untuk jangka panjang, Lesson Study didahului adanya kesepakatan dari  para guru tentang tujuan bersama yang ingin ditingkatkan dalam kurun waktu jangka panjang.
2)      Materi pelajaran yang penting, Lesson study  memfokuskan pada materi atau bahan pelajaran yang dianggap penting dan menjadi titik lemah dalam pembelajaran siswa serta sangat sulit untuk dipelajari siswa. Seperti tema-tema yang terkait dengan praktik fiqih, seperti praktik berwudlu, haji dan lainnya yang sangat penting dipahami.
3)      Study kepada siswa secara cermat, Lesson study memfokuskan pada pengembangan dan pembelajaran yang dilakukan siswa, misalnya : apakah siswa menunjukan minat dan motivasinya dalam belajar PAI, bagaimana siswa bekerja dalam kelompok kecil dalam mendiskusikan sebuah tema dalam materi PAI, bagaimana siswa melakukan tugas-tugas PAI yang dilakukan guru, serta hal-hal yang berkaitan dengan aktivitas, partisipasi, serta kondisi dari setiap siswa dalam mengikuti proses pembelajaran PAI.
4)      Observasi pembelajaran secara langsung, Observasi secara langsung merupakan jantungnya Lesson Study. Untuk menilai kegiatan pengembangan dan pembelajaran PAI yang dilaksanakan siswa tidak cukup hanya dilakukan dengan cara melihat dari RPP (Lesson Plan) atau hanya melihat dari tayangan video, namun harus mengamati proses pembelajaran PAI secara langsung di kelas nyata.
Dalam konteks pembelajaran PAI, diyakini bahwa pratek dan implementasi pola Lesson Study secara berkelanjutan akan mampu meningkatan profesionalisme guru-guru PAI yang pada akhirnya akan berdampak pada peningkatan kualitas pembelajaran PAI  itu sendiri.
Jika guru PAIyang terlibat dalam kegiatan Lesson Study sudah memiliki atau menyadari pentingnya sikap-sikap di atas, maka langkah selanjutnya adalah memfokuskan kegiatan lesson study dengan cara menyepakati tema permasalahan dan pembelajaran yang akan diangkat dalam kegiatan. Kemudian kelompok lesson study dapat membuat perencanaan pembelajaran PAI yang akan dilakukan.Perencanan pembelajaran ini dituangkan dalam bentuk perangkat pembelajaran dan lembar instrument observasi pengumpulan data PBM.
Perangkat pembelajaran adalah sejumlah bahan, alat, media, petunjuk dan pedoman yang akan digunakan dalam proses pembelajaran dalam kegiatan lesson study. Tujuan utama perangkat pembelajaran adalah agar segala sesuatu yang telah direncanakan bersama tercapai.
Adapun perangkat pembelajaran yang disusun dalam tahap perencenaan suatu kegiatan lesson study meliputi:
        1. Rencana pembelajaran. Adapun komponen rencana pembelajaran PAI          adalah:
a.       Standar kompetensi dan kompetensi dasar.
b.      Pokok bahasan.
c.       Indikator.
d.      Model pembelajaran.
e.       Langkah-langkah pembelajaran.
f.        Urutan metode pembelajaran.
g.       Media pembelajarn.
h.       Instrumen evaluasi meliputi kognitif, afektif, dan psikomotorik.
2.                      Lembar kerja siswa
3.                      Teaching guide (panduan guru)
4.                      Media pembelajaran.
Penyusunan lembar observasi untuk mengumpulkan data PBM merupakan suatu elemen penting lesson study yang didasarkan pada rencana pembelajaran yang disusun. Lembar obsevasi ini akan memandu pengamat untuk memperhatikan aspek-aspek khusus yang menjadi fokus kegiatan lesson study.

SOAL
1)      Apa pengertian dari lesson study?
2)      Sebutkan tahapan dalam penyelengaraan lesson study pembelajaran PAI!
3)      Apa maksud dari tahapan refleksi (see) Jelaskan
4)      Menurut Catherine Lewis, mengemukakan nilai positif implementasi Lesson Study, sebutkan nilai positif tersebut!
5)      Apa yang dimaksud dengan perangkat pembelajaran, dan apa tujuannya?

KUNCI JAWABAN

1)      Lesson Study yaitu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning (saling belajar) untuk membangun komunitas belajar

2)      Tahapan dalam penyelengaraan lesson study pembelajaran PAI, yaitu:
Tahapan perencanaan (plan)
Tahapan Pelaksanaan (Do)
Tahapan Refleksi (see)
Tahapan Tindak Lanjut (Act)

3)      Kegiatan refleksi dilakukan dalam bentuk diskusi yang diikutu seluruh peserta lesson study yang dipandu oleh kepala sekolah atau peserta lainnya yang ditunjuk. Diskusi dimulai dari penyanpaian kesan-kesan guru yang telah mempraktikan pembelajaran, dengan menyampaikan komentar atau kesan umum maupun kesan khusus atas proses pembelajaran PAI yang dilakukan.

4)      Menurut Catheine Lewis
a.       Tujuan bersama untuk jangka panjang, Lesson Study didahului adanya kesepakatan dari  para guru tentang tujuan bersama yang ingin ditingkatkan dalam kurun waktu jangka panjang.
b.      Materi pelajaran yang penting, Lesson study  memfokuskan pada materi atau bahan pelajaran yang dianggap penting dan menjadi titik lemah dalam pembelajaran siswa.
c.       Study kepada siswa secara cermat, Lesson study memfokuskan pada pengembangan dan pembelajaran yang dilakukan siswa,
d.      Observasi pembelajaran secara langsung, Observasi secara langsung merupakan jantungnya Lesson Study. Untuk menilai kegiatan pengembangan dan pembelajaran PAI yang dilaksanakan siswa.
5)      Perangkat pembelajaran adalah sejumlah bahan, alat, media, petunjuk dan pedoman yang akan digunakan dalam proses pembelajaran dalam kegiatan lesson study. Tujuan utama perangkat pembelajaran adalah agar segala sesuatu yang telah direncanakan bersama tercapai.